Advertisement

Selasa, 13 Maret 2012

Otobiografi Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Memperingati Haul Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi)


habib ali

Ibu kandungku adalah seorang sayyidah shalihah, arifah billah, dan da’iyah ilallah, Alawiyah binti Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri. Beliau berasal dari kota Syibam. Sementara ayahku adalah seorang yang gemar berdakwah di kalangan pria maupun wanita.

Ketika mendengar ihwal ibuku, ayah­ku ingin memperistri dan membawanya ke kota kediamannya. Saat itu beliau masih tinggal di Taribah. la kemudian meminta tolong dua orang Arif billah, Umar bin Muhammad Bin Smith dan Ahmad bin Umar bin Zain Bin Smith untuk meminang ibuku.

Kedua sayyid itu lalu menemui kakekku, yang shalih, Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri. Keduanya menceritakan maksud kedatangan mereka dan menjelaskan bahwa ayahku adalah seorang ahli dakwah. Mereka berdua menganjurkan agar beliau menerima lamaran ayahku.

Kakekku lalu menerima lamaran ayahku. Beliau sama sekali tidak menanyakan keadaan keuangan ayahku.

Masa Kecil sampai Usia Dewasa

Aku lahir di Desa Qasam, suatu desa yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali bin Alwi Khali’ Qasam (w. 529 H/1135 M), semoga Allah memberi kita manfaat dengannya. Desa yang penuh dengan cahaya. Di desa ini Habib Ali bin Alwi bercocok tanam.

Beberapa salaf kita juga sering berkunjung ke desa ini, mereka membangun masjid dan rumah di sana. Di antaranya, Sayyidina Al-Arif Al-Quthb Asy-Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Assegaf. Di desa ini beliau membangun sebuah masjid yang besar. Beberapa tokoh Alawiyyin yang lain juga melakukan hal yang sama.

Aku lahir di desa itu pada hari Jum’at, 24 Syawwal 1259 H/1843 M.

(Ketika Habib Ali berusia tujuh tahun, yakni pada tahun 1226 H/1850, Habib Muhammad, yaitu ayah Habib Ali, hijrah ke Makkah, bersama tiga saudara Habib Ali yang telah dewasa: Abdullah, Ahmad, dan Husein. Habib Muhammad menyerahkan sang putra, Habib Ali, di bawah asuhan ibunya, yang tetap tinggal di Qasam. Kemudian Habib Ali bersama ibunya pindah ke Seiwun pada usia sebelas ta­hun. Dalam perjalanan ke Seiwun, ia melewati Masilah dan singgah di rumah Allamah Sayyid Abdullah bin Husein Bin Thahir. la menggunakan kesempatan itu untuk menelaah kitab, mengambil ijazah, dan ilbas).

Ibuku dahulu mendoakan aku, “Ali, semoga Allah meninggikan kedudukanmu di dunia dan akhirat.”

Beliau sering mengulang-ulang doa ini sampai Allah mengabulkannya dan meninggikan kedudukanku di dunia, dan aku berharap Dia akan meninggikan keduduk­anku pula di akhirat. Masyarakat senang menyebut namaku. Orang-orang yang tidak kukenal datang dari tempat-tempat yang jauh hanya untuk memandangku.

Aku membaca kehidupan orang-orang shalih dalam buku-buku salaf, meneliti maqam mereka, dan melihat kelemahanku. Lalu kukatakan kepada ibuku, “Bu, katakanlah, ”Ya Allah, berilah anakku Ali maqam Fulan dan maqam Fulan.”

Beliau berdoa dan aku mengamini. Doa kedua orangtua akan dikabulkan oleh Allah. Dan ibuku adalah seorang yang shalihah.

Qubah Makam Al-Habib Ali Al-Habsyi

Suatu hari ayahku mengirim sepucuk surat kepadaku dari Makkah. Di dalamnya beliau menulis: Pergilah ke Makkah, kau tak kuizinkan tinggal di Hadhramaut.

Aku segera memberi tahu ibuku. “Kita tidak bisa menentang kehendak ayahmu,” kata ibuku.

Sebenarnya ibuku tidak sanggup berpisah denganku, aku pun merasa berat untuk berpisah dengannya. Jika teringat perjalanan yang harus kulakukan ini, kami menangis.

Jam berganti hari, hari berganti minggu, dan waktu keberangkatanku semakin dekat. Pada saat keberangkatan, ibuku berpesan kepada Ahmad Ali Makarim, ”Tolong perhatikan Ali, ia belum pernah me­lakukan perjalanan jauh.”

Baik,” jawabnya. Kami kemudian berangkat meninggalkan Seiwun menuju Makkah.

Di tengah perjalanan kami singgah di Syihr. Setiap hari, aku makan siang dan malam hanya berlaukkan sepotong ikan yang kubeli dengan uang satu umsut.

Dari Syihr, aku pergi ke Jeddah, ke mudian ke Makkah, ke tempat ayahku. Beliau sangat senang dengan kedatanganku.

(Beberapa lamanya Habib Ali tinggal di Makkah bersama ayahnya dan menimba ilmu kepada sang ayah, yang tak lain adalah mufti Syafi’iyyah di Masjidil Haram. Suatu hari sang ayah mengutusnya menemani Habib Alwi Assegaf, yang hen- dak dinikahkannya dengan Syarifah Aminah, saudara perempuan Habib Ali, ke Hadhramaut. Setelah selama dua sampai tiga bulan tinggal di Seiwun, Habib Alwi kembali ke Makkah bersama istrinya, sedangkan Habib Ali tetap tinggal di Seiwun).

Aku dan ibuku kemudian pergi ke Qasam. Di sana aku menikah dengan ibu Abdullah (putra tertua Habib Ali). Pernikahan kami berlangsung sangat sederhana. Penduduk Qasam adalah orang-orang yang cinta kebaikan. Setiap tamu undangan memberi kami dua mud gandum. Kami memotong seekor kambing untuk jamuan makan di malam pernikahan.

Hormat dan Ta’zhim kepada Guru

Ketika Habib Abubakar bin Abdullah Al-Aththas datang ke Seiwun bertamu di rumah Ammi (Pamanda) Muhammad bin Ali Assegaf, aku pergi untuk menemuinya.

Kuketuk pintu rumah Ammi Muham­mad. Habib Abubakar bertanya, “Siapa yang mengetuk pintu?”

“Biarkan saja ia di depan rumah, jangan kau bukakan pintu!” kata Habib Abubakar kepada Ammi Muhammad.

Aku mendengar suara Habib Abu­bakar, lalu aku duduk dan teringat cerita Habib Ali bin Abdullah ketika hendak menemui syaikhnya, Habib Ali bin Abdullah Alaydrus. la tidak dibukakan pintu, dan dibiarkan di depan rumah. la bahkan diguyur kepalanya dengan air bekas cucian tangan setelah makan. Namun perlakuan ini tidak mengusiknya, ia tetap duduk di depan rumah sampai dibukakan pintu.

Beberapa saat kemudian Ammi Muhammad melongok ke bawah dan melihatku tetap duduk menunggu. ia bertanya kepada Habib Abubakar, “Kita bukakan pintu?”

“Jangan!” jawab Habib Abubakar. Aku bersabar menunggu sampai kemudian Habib Abubakar berkata kepada Ammi Muhammad, “Katakan kepadanya agar menemuiku di rumah Abdul Qadir bin Hasan bin Umar bin Saggaf, katakan bahwa aku hendak pergi ke sana,” kata Habib Abubakar.

Aku lalu pergi ke sana dan bertemu Habib Abubakar. la menyingkap isi hatiku, “Ketahuilah, kau seperti Habib Ali bin Abdullah, bahkan lebih besar.”

Habib Abubakar berkata kepadaku, “Syarat pertama yang kutujukan kepadamu adalah bahwa kau harus terus mengajarkan ilmu zhahir, dan tidak boleh menyibukkan diri dalam ilmu bathin.”

Aku menjalankan perintah, yakni selalu mengajarkan ilmu zhahir dan tidak pernah menyibukkan diri dalam ilmu ba­thin, karena perintah Habib Abubakar.

Suatu ketika Habib Abubakar datang ke Seiwun di waktu malam, dan aku tidak tahu. Sewaktu tidur aku mendengar suara, “Bagaimana kau bisa tidur, padahal syaikhmu datang ke kota ini?” Suara itu diulang sepuluh kali sehingga aku terbangun.

Keesokan harinya aku bertanya tentang Habib Abubakar dan mendapati be­liau di Masjid Thaha. Masjid telah penuh dengan habaib, di antaranya adalah Ammi Muhsin bin Alwi, Ammi Muhammad bin Ali, dan Iain-Iain. Namun demikian, aku tidak melihat seorang pun kecuali Habib Abubakar, karena luapan rasa cintaku.

Sejak saat itu pintu hubunganku de­ngan beliau mulai terbuka. Sewaktu aku menjabat dan mencium tangan beliau, beliau berkata, “Selamat datang, Al-Habsyi kami.”

Aku berhubungan dengan Habib Abu­bakar dan beliau memperlakukan aku dengan akhlaq yang sangat luhur. Beliau mencurahkan segenap ilmunya, walau pertemuanku dengan beliau hanya ber­langsung kurang lebih empat kali. Namun satu detik bersama beliau lebih dari cukup.

(Habib Ali juga sering pergi ke Tarim untuk menuntut ilmu dari orang-orang alim di sana. Di sana ia bertemu Sayyid Abdullah bin Husein bin Muhammad, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Al-Allamah Umar bin Hasan Al-Haddad, dan ulama besar sezamannya yang lain, seperti Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, Habib Ali bin Idrus Bin Syihab dan Imam Umar bin Abdurrahman Bin Syihab. Penduduk Tarim dan yang lainnya menyambutnya karena mereka melihat tanda kebaikan pada dirinya. Habib Ali juga menuntut ilmu dari ulama di zamannya, seperti Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar, imam para sayyid yang mulia, Habib Ahmad bin Ab­dullah bin Idrus Al-Bar, Imam Idrus bin Umar bin Idrus Al-Habsyi, dan yang lainnya).

Ribath dan Masjid Ar-Riyadh

Selama tiga puluh tahun aku tinggal di daerah ini (kota Qasam), di Masjid Hambal. Siang dan malam Masjid Hambal makmur dengan dzikirtilawatul Qur’an dan pengajian. Para tetangga masjid ini banyakyang menjadi pengusaha, namun mereka semua orang yang gemar beribadah. Mereka melaksanakan berbagai ke- bajikan, membaca Al-Qur’an, dan shalat di akhir malam.

Ketika aku mengajar di Masjid Ham­bal, yang menghadiri majelisku sekitar 400 orang. Sewaktu aku masih menjadi imam di Masjid Hambal, masjid itu penuh dengan kebajikan. Orang beribadah d situ, me­nuntut ilmu di situ, dan mendapatkan makanan lezat di situ.

Setiap shalat Tarawih, aku membaca sepuluh juz, setiap rakaat delapan muqra’. Sedangkan malam Jum’at, dari sahur hingga fajar kugunakan untuk membaca Dalail.

(Ketika Habib Ali berusia 37 tahun, ia membangun ribath yang pertama di Hadhramaut, yaitu di kota Seiwun, untuk para penuntut ilmu dari dalam dan luar kota. Biaya orang-orang yang tinggal di ribath itu ia tanggung sendiri. Di samping itu ada juga beberapa wakaf yang digunakan untuk membiayai keperluan mereka).

Para penghuni ribath adalah orang-orang baik yang kebanyakan berasal dari luar kota. Siang dan malam mereka lewatkan dalam ketaatan: ada yang mem­baca Al-Qur’an, mengajar, menghafal, dan ada yang mengulang pelajarannya. Kita wajib melayani mereka siang dan malam.

Alhamdulillah, semenjak selesai dibangun, ribath ini selalu makmur. Setiap kali mereka menyelesaikan pelajaran, se­tiap kali pula datang orang lain yang menuntut ilmu. Syaikh Muhammad Bathweih, semoga Allah memberkatinya, selalu berada di ribath, ia “meninggalkan” keluarganya untuk mengajar di ribath. Semenjak kedatangannya di ribath, ia selalu menyibukkan diri dengan ilmu. Semua guru yang sekarang mengajar di Seiwun adalah pelajar-pelajar yang dulu telah selesai belajar kepadanya. Beliau mengajar dan memperhatikan mereka. Beliau adalah seorang yang benar-benar alim.

Ketika aku melewati ribath, terdengar gemuruh suara orang yang sedang mem­baca Al-Qur’an, berdzikir, belajar, dan berceramah. Aku mengucapkan puji syukur ke­pada Allah, yang telah menyenangkan hatiku dengan mewujudkan niatku mendirikan ribath. Ribath ini kudirikan dengan niat-niat yang baik, dan ribath ini menyimpan rahasia (sirr) yang besar, menyadarkan mereka yang lalai, dan membangunkan mereka yang tertidur.

Betapa banyak faqih yang telah dihasilkannya, betapa banyak orang alim yang telah diluluskannya. Ribath Ini mengubah orang yang tidak mengerti apa-apa menjadi orang yang alim.

(Ketika Habib Ali berusia 44 tahun, ia membangun masjid yang kemudian dl namai “Masjid Ar-Riyadh”. Berikut syi’ir Habib Ali tentang Masjid Ar-Riyadh yang ia gubah pada bulan Syawwal 1305 H/ 1888 M)

Inilah Riyadh,

ini pula sungai-sungainya yang mengalir

Yang memakmurkan mereguk segar airnya

Yang bermukim tercapai tujuannya

Yang berkunjung terkabul keinginannyn Masjid ini dibangun di atas tujuan yang shahih

Maka terlihatlah tanda-tanda keberhasilannya

Maulid Simthud Durar

(Ketika usia Habib Ali menginjak 68 tahun, ia menulis kitab Maulid yang diberi nya nama Simthud Durar. Maulid ini kemudian mulai tersebar luas di Seiwun, juga di seluruh Hadhramaut dan tempat tempat lain yang jauh, hingga sampai pula ke Nusantara).

Maulid Simthud Durar

Dakwahku akan tersebar ke seluruh wujud. Maulidku ini akan tersebar ke tengah-tengah masyarakat, akan mengumpulkan mereka kepada Allah, dan akan membuat mereka dicintai Nabi SAW.

Jika seseorang menjadikan kitab Maulid-ku ini sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, rahasia (sirr) Al Habib SAW akan tampak pada dirinya.

Aku yang mengarangnya dan mendiktekannya, namun setiap kitab itu dibacakan kepadaku, dibukakan bagiku pintu untuk berhubungan dengan Nabi SAW

Pujianku kepada Nabi SAW dapat diterima oleh masyarakat. Ini karena besarnya cintaku kepada Nabi SAW. Bahkan dalam surat-suratku, ketika aku menyifatkan Nabi SAW, Allah membukakan ke­padaku susunan bahasa yang tidak ada sebelumnya. Ini adalah ilham yang diberikan Allah kepadaku.

Dalam surat-menyuratku ada bebe­rapa sifat agung Nabi SAW. Andaikan Nabhani (Syaikh Yusuf bin Ismail An- Nabhani, seorang alim besar dari Iskandaria yang produktif dalam menulis kitab dan hidup semasa dengan Habib Ali) membacanya, tentu ia akan memenuhi kitab-kitabnya dengan sifat-sifat agung itu.

Munculnya Maulid Simthud Durar di zaman ini akan menyempu makan kekurangan orang-orang yang hidup di zaman akhir. Sebab, tidak sedikit pemberian Allah kepada orang-orang terdahulu yang tidak dapat diraih oleh orang-orang za­man akhir. Tapi setelah Maulid ini datang, ia akan menyempurnakan apa yang telah terlewatkan. Dan Nabi SAW sangat menyukai Maulid ini.

Kesendirianku bersama Tuhanku

Makam Beliau

Alhamdulillah, sejak kecil aku tidak pernah memperturutkan hawa nafsuku. Kadangkala orang yang mendengar ucapan mereka yang memusuhiku da­tang menemuiku dan berkata, “Doakanlah mereka dengan keburukan.”

Aku jawab, ”Tidak!” Aku bahkan mendoakan agar Allah memberi hidayah ke­pada mereka dan memperbaiki kesalahan mereka. Dan, alhamdulillah, maqam ini telah kupegang selama lima puluh tahun, dan setiap tahun selalu meningkat.

Ini merupakan karunia Allah SWT. Aku tidak memintanya, baik dengan hati maupun lisan, akan tetapi Allah SWT te­lah bermurah kepadaku.

Sesungguhnya aku tidak menyukai sambutan-sambutan dan kerumunan orang yang ada di sekitarku. Yang kusukai adalah kesendirianku bersama Tuhanku.

(Zhuhur, hari Ahad, 20 Rabi’ul Akhir 1333 H/1915 M, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi wafat. Waktu ashar keesokan harinya, jenazahnya diantar ke makam dalam suatu iring-iringan yang, karena begitu banyak dihadiri oleh manusia, digambarkan dengan tidak ada awal dan akhirnya. Jenazah Habib Ali kemudian dikebumikan di sebelah barat Masjid Ar-Riyadh)

Sumber: dari Majalah Alkisah No. 06/2011 yang diisarikan dari buku Biografi Habib Ali Habsyi Muallif Simtud Durar*

1 komentar :

bongjun mengatakan...

Like This Cak....oh ya di kampungku terdapat banyak keturunan Sayid...apakah cak fer juga keturunan Sayid ?

Advertisement

Jalin ukhuwah untuk tingkatkan dakwah

Tartil